BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Karena materi
tentang Tuhan yang Maha Esa dan Ketuhanan adalah hal yang paling penting untuk
menjadi seorang Muslim yang sejati atau Muslim yang menjadi benar-benar seorang
yang sangat beriman dan bertaqwa, oleh karena itu materi ini sangat bermanfaat
untuk kita semua agar menjadi manusia yang dulunya tersesat dalam dunia yang
sangat fana ini menjadi manusia yang insya allah menjadi manusia yang lebih
baik lagi dan selalu mengingat Allah SWT pada setiap waktunya.
2.
Rumusan Masalah
Masalah yang didapatkan pada materi ini yaitu ada
pada seorang manusianya itu sendiri, karena jika manusia itu tidak bisa
mengubah dirinya menjadi lebih baik lagi maka orang itu sudah benar-benar sudah
tersesat dalam gemerlapnya dunia yang fana ini.
3.
Tujuan
Tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah :
a)
Agar Menjadi
seorang Muslim yang bertaqwa dan beriman hanya kepada Allah SWT
b)
Mempelajari arti
pentingnya makna Tauhid dalam hidup kita.
c)
Mengatahui
ajaran-ajaran Rasul tentang keimanan dan ketaqwaan seperti yang tercantum dalam
Al-Qur’an, Al-Hadist, dan As-Sunnah.
4.
Manfaat
a)
Mengetahui makna
2 kalimat syahadat dan begitu pula mempelajari artinya dengan baik dan sesuai
dengan ajaran Tauhid.
b)
Menambah tingkat
keimanan dan ketaqwaan menjadi lebih tinggi lagi.
c)
Mengetahui
hal-hal yang sebelumnya belum kita ketahui menjadi lebih tahu tentang
pentingnya materi tentang “Tuhan Yang
Maha Esa dan Ketuhanan”
BAB II
URAIAN MATERI
![]() |
1.
Keimanan dan implikasi tauhid dalam Islam
Apa itu iman? Iman adalah kepercayaan yang harus
dianut oleh setiap manusia, iman tak dapat diwarisi dari seorang ayah yang
bertakwa dan juga tak dapat dijual beli. Dalam hidup kita juga harus
mempercayai adanya Rukun Iman. Nah apa sih Rukun Iman itu ? Rukun iman adalah
hal hal yang harus dipercaya dan dianut oleh seorang muslim. Rukun iman ada
berapa sih? Rukun iman ada 6, yaitu :
1)
Iman kepada
Allah
Percaya kalau Allah itu
ada dan dia adalah Maha Esa akan segala sesuatu tentang apa yang ada dalam
dunia ini. Karena sesuai dengan membaca 2 kalimat syahadat yaitu “la ila ha
ilallah waashaduanna muhammadurasulullah” yang berarti “tidak ada Tuhan (yang
berhak disembah) selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Ajaran Islam dalam
Keesaan Allah adalah :
a)
Allah Maha Esa
Dalam Zat-Nya
b)
Allah Maha Esa Dalam
Sifatnya yaitu Al-Asma’ul Husna yang berjumlah 99, antara lain Ar-Rahman,
Ar-Rahim, Al-Malik, Al-Quddus dan lain sebagainya.
Dalam ilmu tauhid sifat
Allah ada 20 yaitu :
Wujud (Ada), Qidam
(Tidak Ada permulaannya), Baqa (Kekal), Mukhalafatu Lil hawadisi (Berbeda
dengan segala ciptaannya), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri), Wahdaniyah
(Maha Esa), Qadrat (Maha Kuasa), Iradat (Berkehendak), Ilmu (Maha Mengetahui),
Hayat (Hidup), Sama’(Maha Mendengar) , Bashar (Maha Melihat), Kalam (Maha
Berkata-kata), Qadiran (Berkuasa), Muridan (Berkemauan), ‘Aliman
(Berpengetahuan), Hayyan (Hidup), Sami’an (Maha Mendengar), Bashiran (Maha
Melihat), Mutakalliman (Mudah Berkata-kata).
2)
Iman kepada
Malaikat
Malaikat adalah hamba
Allah yang paling taat dan tidak punya hawa nafsu. Malaikat terbuat dari Nur
(Cahaya) merupakan makhluk ghaib dan tidak dapat dilihat oleh mata manusia.
Seperti Malaikat Jibril menjadi manusia dihadapan Maryam (ibu Isa Al
Masih) yang tercantum dalam (QS . Maryam
(19:16-17).
Ada 10 Malaikat yang paling
penting tugasnya yaitu :
a)
Jibril :
menyampaikan Wahyu
b)
Mikail :
Membantu Jibril Untuk Menyampaikan Wahyu
c)
Izroil :
Pencabut Nyawa
d)
Isrofil : Meniup
Sangkakala
e)
Munkar :
Mencatat Amal Baik
f)
Nakir : Mencatat
Amal Buruk
g)
Rokib :
Menanyakan didalam Kubur
h)
Atid :
Menanyakan didalam Kubur
i)
Malik : Penjaga
Pintu Neraka
j)
Ridwan : Penjaga
Pintu Surga
3)
Iman kepada
Kitab Suci
Kitab Suci Al-Qur’an
merupakan kitab yang paling lengkap isinya dari manusia dihidupkan, kemudian
mengalami kematian sampai datangnya hari akhir (kiamat) nanti. Al-Qur’an juga
berisi tentang kitab kitab yang sebelumnya diturunkan kepada nabi sebelumnya
yaitu kitab Zabur kepada Nabi Dawud, Kitab Taurat kepada Nabi Musa, Kitab Injil
kepada Nabi Isa dan terakhir yaitu Kitab Al-Qur’an kepada baginda Rasul yaitu
Nabi Muhammad saw.
4)
Iman Kepada Nabi
dan Rasul
Nabi itu diberikan
wahyu untuk menyebarkan agama islam dibumi. Tetapi nabi tidak diwajibkan untuk
menyampaikan wahyu kepada manusia, tetapi kalau Rasul diwajibkan untuk
menyampaikan wahyu kepada manusia. Karena nabi belum tentu Rasul dan Rasul
sudah pasti Nabi. Jumlah Rasul yang pernah diutus Allah berjumlah 313 orang
sedangkan nabi berjumlah 124.000 orang (lihat QS. An-Nisa (04) : 164).
Sedangkan Allah mengutus Muhammad menjadi Rasul dan Nabi terakhir dimuka bumi
ini (lihat QS Al-Ahzab : 40) dan (QS Saba’ : 28). Alasan Muhammad diutus
menjadi Nabi dan Rasul terakhir adalah terdapat dalam QS Al-Anbiya’ : 107.
5)
Iman kepada Hari
Akhir (Hari Kiamat)
Percaya pada hari
kiamat adalah hal yang penting dalam hidup didunia ini, karena kalau tidak
beriman pada hari akhir berarti orang itu tidak mempercayai adanya agama islam
walaupun orang itu berkata beriman kepada Allah (lihat QS AN-Nisa : 59) dan (QS
AL-Baqarah : 62). Datangnya hari kiamat itu hanya Allah yang tau kapan dan
sebabnya kiamat itu terjadi.
Contoh tanda-tanda hari
akhir akan datang :
a)
Laki-laki
menyerupai perempuan dan perempuan menyerupai laki-laki
b)
Mewarnai Warna
Rambut.
c)
Munculnya Musik
d)
Dan lain
sebagainya…
6)
Iman kepada Qada
dan Qadar
Iman kepada Qada dan
Qadar bisa juga disebut sebagai takdir dalam hidup dan dunia.
Menurut Al-Qur’an Qadha
berarti :
a)
Hukum (lihat QS
An-Nisa : 65)
b)
Perintah (lihat
QS Al-Isra : 23)
c)
Memberitahukan
(lihat QS Al-Isra : 4)
d)
Menghendaki
(lihat QS Ali Imran : 47)
e)
Menjadikan
(lihat QS Fushilat : 12)
Kewajiban mengimani
Qadar
Setiap manusia harus
berusaha, berdoa, dan terus berikhtiar kepada Allah SWT. Tanpa adanya usaha
tersebut maka apa gunanya kita sebagai manusia hidup didunia ini? Manusia harus
berusaha karena buah dari berusaha adalah kemenangan yang hakiki atau
kemenangan yang sempurna dalam hidup ini (lihat QS Ali-Imran : 142) dan (QS
Ar-Ra’d : 11)
2.
Ketaqwaan dan Implikasinya Dalam Kehidupan
Apa sih taqwa ? Ketaqwaan Dalam Islam
/ takwa ,yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala
perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan
takut saja. Adapun arti lain dari taqwa adalah:
1. Melaksanakan
segala perintah Allah.
2. Menjauhkan diri
dari segala yang dilarang Allah (haram).
3. Ridho (menerima
dan ikhlas) dengan hukum-hukum dan ketentuan Allah.
Taqwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara.
“memelihara diri dalam menjalani hidup sesuai tuntunan/petunjuk allah” Adapun
dari asal bahasa arab quraish taqwa lebih dekat dengan kata waqa. Waqa bermakna
melindungi sesuatu, memelihara dan melindunginya dari berbagai hal yang
membahayakan dan merugikan. Itulah maka, ketika seekor kuda melakukan
langkahnya dengan sangat hati-hati, baik karena tidak adanya tapal kuda, atau
karena adanya luka-luka atau adanya rasa sakit atau tanahnya yang sangat kasar,
orang-orang Arab biasa mengatakan Waqal Farso Minul Hafa (Taj). Dari kata waqa
ini taqwa bisa di artikan berusaha memelihara dari ketentuan allah dan
melindungi diri dari dosa/larangan allah. bisa juga diartikan berhati hati
dalam menjalani hidup sesuai petunjuk allah. Ketaqwaan merupakan paspor jaminan
keselamatan untuk mengarungi kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat kelak.
Sehingga diperintah dalam surat Ali ‘Imran
ayat 102 dimana : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati
melainkan dalam keadaan beragama Islam”
Dampak dari pengimplikasian orang-orang yang bertaqwa, diantaranya
adalah :
a. Selalu ingat Allah dan bertaubat.
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was
dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat
kesalahan-kesalahannya." (QS. Al A'raaf : 201)
b. Takut kepada Rabb-nya meskipun tidak bisa
melihat-Nya.
"(yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang
mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari
kiamat." (QS. Al Anbiyaa' : 49)
"Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga"
(QS. Ar Rahmaan :46)
c. Taat selamanya hanya kepada Allah.
"Dan kepunyaan-Nya-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan
untuk-Nya-lah ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertakwa kepada
selain Allah?" (QS. An Nahl : 52)
d. Beriman, mendirikan sholat, dan
menafkahkan rezki di jalan Allah
"(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan
shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada
mereka." (QS. Al Baqarah : 3)
"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu
kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah,
hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta
yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir
(yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan
(memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan
orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang
sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah
orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang
bertakwa" (QS. Al Baqarah : 177)
·
Beberapa ciri orang yang bertaqwa
a.
beriman dan meyakini tanpa keraguan bahwa Alqur’an sebagai pedoman
hidupnya.
b.
beriman kepada perkara-perkara yang gaib.
c.
mendirikan sembahyang.
d.
orang yang selalu membelanjakan sebahagian dari rezeki yang
diperolehnya.
e.
orang yang selalu mendermakan hartanya baik ketika senang maupun
susah.
f.
orang yang bisa menahan amarahnya, dan mudah memberi maaf.
g.
mensyukuri nikmat Allah yang telah diterimanya, karena Allah
mengasihani orang-orang yang selalu berbuat kebaikan.
h.
takut melanggar perintah Allah.
oleh karena itu,
tempat mereka adalah surga sesuai dengan yang dijanjikan Allah, dan tempatnya tidak
jauh dari mereka.
·
Identifikasi beberapa
ayat-ayat terkait tentang taqwa :
o
Surat Al Baqarah ayat 197
“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang
menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh
rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.
Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.
Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan
bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”
o
Surat AL-Hajj 37
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai
(keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.
Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan
Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada
orang-orang yang berbuat baik.”
o
Surat Al-Thalaq 2-5
-
QS Al-Thalaq (65) : 2
Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan
barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya.
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
-
QS. ath-Thalaq (65) : 3
Dan perempuan-perempuan yang putus asa dari haid di antara perempuan-perempuanmu
jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga
bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan
perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka
melahirkan kandungannya. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya
Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.
-
QS. ath-Thalaq (65) : 4
Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu; dan barangsiapa yang
bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan akan
melipat gandakan pahala baginya.
-
QS. ath-Thalaq (65) : 5
Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut
kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati)
mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil,
maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika
mereka menyusukan (anak-anak) mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya;
dan musyawarahkanlah diantara kamu (segala sesuatu), dengan baik; dan jika kamu
menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.
·
Identifikasi beberapa hadist terkait
dengan taqwa :
-
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, telah ditanyakan kepada
Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling mulia?” Rasulullah
Saw menjawab : “Orang yang paling bertakwa.”. Mereka (sahabat) berkata, “Bukan
itu yang kami tanyakan.” Rasulullah bersabda : “Kalau begitu (yang paling
mulia) adalah Yusuf bin nabi Allah (Ya’kub) bin nabi Allah (Ishak) bin
Khalîlullah (kekasih Allah) yakni Ibrahim.” Para sahabat berkata, “Bukan itu
yang kami tanyakan.” Rasulullah SAW balik bertanya : “Apakah tentang keturunan Arab
yang baik yang kalian tanyakan? Orang Arab yang terbaik di masa jahiliyah
merupakan yang terbaik dalam Islam jika mereka memahami syariat Islam.”(Muttafaq
‘Alaihi)
-
Dari Abu Tharîf ‘Adiy bin Hâtim Ath-Thâi, ia berkata, Aku pernah mendengar
Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang telah bersumpah (untuk berbuat sesuatu), kemudian dia melihat
bahwa apa yang disumpahkannya itu bisa membutanya lebih takwa maka hendaklah ia
melakukan apa yang dilihatnya dapat membuatnya lebih bertakwa.”(HR. Muslim)
-
Dari Abu Umâmah Shuday bin ‘Ajlân Al-Bâhiliy RA, ia berkata, Saya telah
mendengar Rasulullah SAW berkhutbah pada Haji Wada’ (perpisahan). Beliau
bersabda : “Bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, tegakkanlah lima salat
fardhu kalian, berpuasalah pada bulan Ramadhan, tunaikanlah zakat harta kalian,
dan taatilah pemimpin-pemimpin kalian, niscaya kalian masuk surga.” (HR. Tirmidzi
dalam Sunan-Nya pada bagian akhir dari Bab Shalat. Dia juga berkata bahwa hadis
ini /Hasan/ lagi /Shahih/)
-
Dari Abu Dzar ra., Rasulullah saw bersabda, “Saya wasiatkan
kepadamu agar: (1) senantiasa bertakwa kepada Allah Ta’ala, baik dalam keadaan
sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, (2) jika kamu telah melakukan
kekhilapan (kesalahan) maka bersegeralah melakukan kebaikan, (3) jangan
meminta-minta dari orang banyak, (4) jangan mengemban amanah (jika merasa tidak
mampu menunaikannya), dan (5) jangan menjadi qadhi (pemutus perkara) di antara
dua orang yang berselisih.” (HR. Ahmad).
·
Taqwa memiliki tiga
tingkatan
1.
Pertama : Ketika seseorang melepaskan diri dari kekafiran dan
mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah, dia disebut orang yang taqwa. Didalam
pengertian ini semua orang beriman tergolong taqwa meskipun mereka masih
terlibat beberapa dosa.
2.
Kedua : Jika seseorang menjauhi segala hal yang tidak disukai
Allah SWT dan RasulNya (SAW), ia memiliki tingkat taqwa yang lebih tinggi.
3.
Ketiga : orang yang setiap saat selalu berupaya menggapai cinta
Allah SWT, ia memiliki tingkat taqwa yang lebih tinggi lagi.
Dari Abu Hurairah
juga, bahwa Rasulullah SAW memperingatkan, “Pada hari kiamat, hak-hak seseorang
pasti akan ditunaikan, sampai-sampai peradilan domba yang tidak bertanduk yang
mendapat yang mendapat kesusahan dari domba yang bertanduk. Tirmidzi berkata,
“Ini adalah hadits-hadits Hasan Sahih. (Lihat: Jami’al-Tirmidzi, juz vii,
halaman 98 hadits no: 1049 (Tuhfat al-Ahwa))
Inilah yang
menyebabkan para sahabat ketakutan dan menangis waktu ditunjuk menjadi
pemimpin/amir, karena terbayang betapa besarnya tanggung jawabnya, terbayang
betapa banyaknya orang-orang yang berhak atas dirinya. Seandainya dia tidak
bisa menunaikan hak-hak orang-orang.
·
Ganjaran Orang yang
bertaqwa
Sebuah sifat yang baik, akan menghasil kan hasil yang baik pula,
begitupun bertaqwa. Maka allah akan memberikan diantaranya untuk orang bertaqwa
:
a.
Diberi jalan keluar serta rezeki dari tempat yang tak diduga-duga
(QS. Ath Thalaaq [65]:2-3)
b.
Dimudahkan urusannya (QS. Ath Thalaaq [65]:4)
c.
Dilimpahkan berkah dari langit dan bumi (QS. Al A’raaf [7]:96)
d.
Mendapat petunjuk dan pengajaran (QS. Al Baqarah [2]:2 dan QS.Al
Maa-idah [5]:46)
e.
Mendapat Furqan (QS. Al Anfaal [8]:29)
f.
Cepat sadar akan kesalahan (QS. Al A’raaf [7]:201)
g.
Tidak terkena mudharat akibat tipu daya orang lain (QS. Ali ‘Imran
[3]:120).
h.
Mendapat kemuliaan, nikmat dan karunia yang besar (QS. Ali ‘Imran
[3]:147 dan QS. Al Hujuraat [49]:13)
i.
Tidak ada kekhawatiran dan kesedihan (QS. Al A’raaf [7]:35)
j.
ALLAH bersamanya dan melindunginya (QS. Al Baqarah [2] :194 dan Qs. Al-jatsiyah 19)
k.
Diselamatkan dari api neraka (QS. Maryam [19]:71-72)
l.
Dijanjikan Surga (Qs.
Al-hijr 45)
Allah
menegaskan, bahwa barang siapa yang selalu berupaya merealisir takwanya dalam
segala aktivitas riil-konkrit kesehariannya, maka Allah tidak hanya akan
memberinya kebaikan di dunia–kebaikan sosial, kebaikan profesi, dan kebaikan
solusi bagi problema dirinya, tetapi juga pahala yang sangat besar. Aktualisasi
takwa di sisi lain akan mendorong umat manusia, untuk tidak pernah berhenti
melakukan perubahan dan kompetisi. Bukan kompetisi untuk memunculkan yang
munkar, tapi kompetisi untuk memunculkan yang baik. Keragaman baik itu budaya,
suku, ras, dan agama, maupun juga ragam profesi dalam konteks takwa bukanlah
hambatan untuk bekerja maksimal merealisir amal saleh dan membawa amal
jariyah. “Hai manusia, sesungguhnyaa Kami mencip-takan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia
di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara
kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
- Simpulan
Setiap manusia harus
mengamalkan tentang keimanan dan ketaqwaan, karena dengan adanya keimanan dan
ketaqwaan dalam hidup kita, kita dapat mengetahui baik buruknya hidup yang
harus dijalankan dalam dunia ini. Hidup tentang beriman kepada Allah merupakan
hal yang paling penting dalam hidup ini, kalau kita tidak beriman kepada Allah
kita mungkin tidak akan mendapatkan betapa indahnya surga Allah dan juga kita
tidak dapat bertemu dengan nabi-nabi dan rasul-Rasul Allah yang sangat mulia
itu. Dan juga kita tidak dapat bertemu dengan pengikut-pengikutnya yang selalu
menjalankan perintah dari Allah dan Rasulnya, dan selalu meninggalkan segala
larangannya.
- Saran
Untuk setiap manusia
setidaknya “HARUS” beriman dan bertaqwa kepada Allah. Agar kita dapat
mengetahui pentingnya hidup itu bukan hanya untuk didunia saja melainkan juga
diakhirat. Karena kenikmatan didunia itu hanya sekejap saja dan tidak akan
kekal. Kalau diakhirat kita akan hidup kekal selamanya dan itulah hidup yang
sesungguhnya didunia ini.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Buku Mata Kuliah
Pendidikan Agama Islam Universitas Gunadarma
2.
Cholis.2012.
Konsep Al-Qur’an tentang taqwa
(Choliscollection.blogspot.com/2012/01/konsep-alquran-tentang-taqwa-dan.html,
diakses Januari 2012)
3.
Info Dakwah
Islam.2012. Ketaqwaan dan keimanan serta implikasi dalam kehidupan sehari-hari
(Infodakwahislam.wordpress.com/2013/05/11/ketaqwaan-dan-keimanan-serta-implikasi-dalam-kehidupan-sehari-hari.html,
diakses 11 Mei 2013)
4.
Nurdiansah,
Danang.2012. Identifikasi ayat-ayat yang berkaitan dengan ketaqwaan
(Danangnurdiansah.blogspot.com/2012/01/identifikasi-ayat-ayat-yang-berkaitan.html,
diakses Januari 2012)
0 komentar:
Posting Komentar